| Anak Semata Wayang Tewas |
| Thursday, 20 August 2009 | |
|
Marlin: ‘Hakim Miring’ KEHILANGAN orang yang dicintai dan dikasihi apalagi seorang anak yang hanya satu-satunya alias semata wayang, merupakan pukulan terberat dalam kehidupan seorang ibu. Inilah yang dirasakan Marlin Seke, ibu yang melahirkan Bernard Gian Reiner Tingghehe, yang tewas mengenaskan akibat kecelakaan lalu lintas yang dialaminya 10 Agustus lalu. PERASAAN ibu yang mana yang tak akan syok melihat anak semata wayangnya harus pergi meninggalkannya dalam usia yang masih remaja. Namun keadilan seakan menjauh dari kehidupan wanita berparas cantik yang telah menjadi single parent ini. Betapa tidak, usai memberikan kesaksian dalam persidangan Rabu kemarin, bukannya kepuasan yang didapat karena berhasil menyeret seorang artis papan atas Sulawesi Utara (Sulut) berinisial YR alias Yuniarti (25) warga Kelurahan Kairagi Weru Lingkungan I Kecamatan Mapanget, terlibat tabrakan dengan sepeda motor yang ditumpangi anaknya hingga tewas mengenaskan, namun kekecawaan yang tampak diwajahnya. Dengan mata berkaca-kaca, Marlin yang dimintai keterangannya sebagai saksi pertama di sidang lakalantas yang dipimpin Majelis Hakim Saur Sitindaon SH, Rabu (19/8) sore kemarin, mengaku kepada sejumlah wartawan bahwa hakim yang memimpin sidang sangat miring. “Hakim miring. Kelihatan membela si terdakwa. Ini telah saya rasakan sejak sidang pertama, dimana hanya karena alasan terdakwa itu seorang gadis dan akan menjalankan ibadah puasa sehingga hakim memutuskan untuk mengabulkan permintaannya menjadi tahanan kota alias keluar dari Rutan Malendeng. Alasan itu jelas diakui hakim didepan persidangan lalu. Ini menyangkut nyawa anak saya yang telah meninggal,” ungkap Marlin yang diamini anggota keluarganya yang lain dengan wajah kecewa. Ia mengaku sangat menyayangkan sikap hakim yang terkesan membela di terdakwa, selama persidangan berlangsung. Namun diakuinya, peristiwa yang menimpa anaknya, semoga tidak menimpa orang lain. Ia mengaku kecewa dengan sikap hakim yang nampak jelas berpihak kepada terdakwa. “Kita hanya serahkan semuanya ke tangan Tuhan. Biarlah Yang Diatas yang melihat semuanya. Ia maha mengetahui apa yang dilakukan atau diperbuat seiap manusia. Tuhan itu adil,” tegasnya dengan mata berkaca-kaca. (726) |